Selasa, 07 Pebruari 2012 11:49 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Toto Tasmara
Bukalah jendela hatimu, biarkan cahaya Ilahi menerpa seluruh sudut kehidupanmu. Engkau bersuka cita di bawah semburat cahaya mentari. Rumahmu, tempat engkau tinggal, bukanlah kuburan kelompok tertentu. Indah bangunannya, mahal harganya, luas tempatnya, tetapi hanya sekadar membungkus seonggok daging dan tulang, baunya busuk, keabadiannya sirna, peti yang kukuh semakin rapuh, dan kemudian berdebu, lalu tubuhmu sirna.
Rumahmu yang sebenarnya bukanlah wujud keindahan yang hanya bisa dipandang dengan mata telanjang. Rumahmu adalah jiwamu yang wibawanya kau pantulkan dari cara memandang dengan mata hatimu yang memancarkan rasa iba kepada saudara-saudaramu.
Sukma tak akan pernah sirna, tetapi menjulang ke langit, karena di sanalah ia berawal. Sedangkan raga yang kosong dari cinta dan diliputi keserakahan akan tenggelam memasuki tanah-tanah busuk yang hitam berlumpur, bergabung dengan rayap yang bersembunyi dalam kegelapan.
Sebab itu, hiasilah rumahmu dengan roh yang memancarkan kemuliaan akhlak. Poleskan cahaya persaudaraan penuh cinta. Karena kelak, para penduduk di rumahmu akan bergabung di surga Aden. Mereka saling bertegur sapa dalam damai. Duduk bertelekan bangku-bangku panjang, dibalur wewangian bunga-bunga teratai yang tak pernah layu, wanginya membuat seluruh anggota keluargamu terbang menari dengan sayap-sayap para malaikat. Zikir dan rintihan harapan yang kau gemakan selama hidupmu akan berubah menjadi musik surgawi yang memeluk kemesraan. Itulah hari yang dijanjikan, suatu perhelatan reuni abadi yang diperuntukkan bagi mereka yang hatinya dipenuhi tamu-tamu cinta. (QS [13]: 23).
Akhlak para penghuni rumah yang senantiasa membuka mata hati melebarkan jiwa kedermawanan, akan menjadi gelas-gelas berisi penuh air mahabbah (cinta). Rumahmu adalah miniatur dari rumah keabadian. Rumah yang para penghuninya merasa damai sejahtera berlimpah cinta, itulah surga. Baiti jannati-(rumahku surgaku).
Rumah bukan hanya sekadar berteduh. Ia adalah pelabuhan hati, di mana para pengembara akan berangkat dan berlabuh melepas desah lelah perantauannya. Ia adalah saksi bisu yang merekam keluh kesah para penghuninya. Jadikanlah shalat adalah tiangnya, zikir sebagai fondasinya, dan bacaan Alquran adalah cahaya yang akan menerangi setiap pori-pori para penghuninya.
Inilah cara dan ciri orang-orang mukmin menjawab seruan Ilahi. "Quu anfusakum wa ahlikum naran.” Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS at-Tahrim [66]: 6).
Dalam badai kehidupan yang bertuhankan materi, masyarakat dajjalis yang kehilangan hidayah Ilahi. Masyarakat yang dilanda oleh defisit kejujuran dan inflasi kebohongan. Benteng terakhir yang tidak boleh runtuh adalah rumah.
Maka, jadikanlah rumahmu sebagai madrasah rohaniah yang akan melahirkan generasi baru pewaris cita-cita risalah. Generasi Rabbaniyah, generasi yang menjunjung akhlakul karimah. Bertindak cerdas penuh integritas dan tangkas menundukkan dunianya. Generasi yang mampu menancapkan panji-panji keteladanan. Menyuntikkan serum kejujuran dan menggapai bintang-bintang prestasi. Ini semua diawali dari rumah. Wallahu a’lam
Selasa, 07 Februari 2012
Rabu, 25 Januari 2012
Maafkan bila aku mengeluh
Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang remaja tampan dengan rambut sedikit ikal. Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan aku sangat ingin memiliki gairah hidup yang sama. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan. Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu. Namun ketika dia lewat .... ia tersenyum. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku.
Aku berhenti untuk membeli sedikit kue. Anak laki-laki penjualnya begitu mempesona. Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira. Seandainya aku terlambat sampai di kantor, tidaklah apa-apa. Ketika aku pergi, dia berkata, 'Terima kasih. Engkau sudah begitu baik.
Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Lihatlah, aku buta.' Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.
Lalu, sementara berjalan. Aku melihat seorang anak mirip bule dengan bola mata biru. Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain sepak bola. Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Aku berhenti sejenak, lalu berkata, 'Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak ?' Dia memandang ke depan tanpa bersuara, lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.
Dengan dua kaki untuk membawaku ke mana aku mau. Dengan dua mata untuk memandang mentari dan bukit-bukit. Dengan dua telinga untuk mendengar desir angin dan segala bunyi.
Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.
(Embun Taushiyah)
Selasa, 24 Januari 2012
25 januari 2012
Seret aku ke atas hamparan sajadah ini
Tenggelamkan aku dalam lautan tasbih tak bertepi
Adalah kerinduan akan-Mu
Tuntun aku telusuri baris-baris kalam-Mu..
Mencari makna di balik keindahan kata
Yaa Ghofur・Yaa Mujib・
Larut aku dalam munajat panjangku..
Pasrah dan berserah di tengah pengharapan akan terbalasnya rindu ini
Yaa Majid,Yaa Muhaimin.
Adakah rindu yang lebih indah
Selain kerinduan akan-Mu..
#IS
Do'a by Chairil Anwar
Tuhanku....
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu papas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk...
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling.
------------------------------ --
(Doa, by: Chairil Anwar)
Allah bersamamu..
Engkau diciptakan oleh Allah begitu indah.. Jika kehidupanmu ditakdirkan sekeras ini, dengan begitu banyak cobaan yg menghadang berarti Allah menginginkanmu agar menjadi pribadi yg lebih kuat,, lebih tegar tuk menghadapinya. Tetap semangat menjalani hidup. Engkau akan menjadi orang yang hebat..
Semangat saudaraku..!!!
Allah selalu bersamamu... ^_^
Jumat, 23 September 2011
7 Syurga-Edcoustic
kumandang cinta bergema hingga ke hati
Lafadz2 asmara memanggil jiwa yang rapuh
Rapuhnya aku,
Kau Maha Tahu
Pagi, siang, malam dunia yang kutuju
Saat ku jatuh,
baru ku sadar Kaulah segalanya.
Tuhan, ku angkat kedua tanganku.
Sudikah Engkau menerima cintaku.
Berdarah-darah akan ku tempuh.
Menggapai hakikat cinta-Mu.
7 syurga Mu,
aku tak pantas,
menerima diri yang bersimbah dosa.
Ku harap cinta dan ampunan-Mu.
Setinggi Arasy-Mu,
seluas semesta cinta-Mu.
(7 syurga-edc)....
Pagi Dalam Cinta
pagi..., lirih berbisik..
menyapa jiwa yang tunduk
agar semakin merunduk
pada bayang-bayang pohon yang semakin memanjang
karena matahari yang tengah naik memaksa
ketundukan bayangan "kepada sebuah kepastian"
lagi..., sekali ini...
andai bisa menahan
rasa yang ada, untuk berdiam lebih lama di dada
mengukir hati, sebagai matahari pagi ini
melukis hati, sebagai lukisan pagi ini
selalu ada pagi yang akan datang
menghampiri lagi,
berbisik lirih sekali lagi...
mengabarkan kebahagiaan
mengabarkan berita gembira
akan datangnya hari esok
akan adanya sebuah harapan
akan adanya "kepastian"
kembalinya kepada ketentuan; yang telah dituliskan
dalam sebuah kitab yang disucikan
yang berada di tempat yang paling suci
(=Lauh Mahfuz=)
lagi...., sekali ini
selalu ada pagi yang datang
yang mengingatkan, waktu yang telah berlalu
apakah ada sebuah arti, yang mampu kutuliskan
menjadi sebuah kisah yang membanggakan
mungkin membangkitkan semangat bagi yang menyimak
dan mempesona bagi yang membaca
juga menyenangkan bagi yang mendengar
satu kisah diantara sejuta kisah lainnya
selalu ada pagi yang datang
kusadari kesalahan yang terjadi
(selalu dan selalu; ampuni .... maafkan aku)
yang tertulis dalam setiap langkah kaki
dalam sebuah tulisan yang jelas dan nyata
yang mampu terbaca sejauh mata memandang
sejauh ingatan melayang, selepas fikiran terbang
semoga itu terhapus oleh basuhan cinta
yang kusiramkan sepanjang perjalanan
sepanjang langkah yang kulalui
-ribuan pagi telah datang-
memberi kabar gembira dan peringatan
akan datangnya sebuah 'kepastian'
yaitu: akan arti hidup ini
yang hanya dituliskan dalam sebuah bingkai
agar dibaca oleh siapa saja, dengan bahasa yang sederhana
bahasa hati, bahasa cinta, bahasa kasih sayang
pagi ini, -...sekali lagi datang...-
kuterbangkan diriku kepada cinta
membawaku bersama keindahan pagi
yang semarak seperti surga
yang menerbangkanku kepada cinta
membawaku dalam sinar matahari pagi
melambungkanku kepada cinta
selalu dalam bahasanya yang sederhana
yang sama sejak manusia ada
sampai akhir masa nanti
cinta dengan bahasanya yang dimengerti
oleh seorang yang paling bodoh sekalipun
sampai seorang yang paling pandai
dari seorang yang paling kikir
sampai seorang yang paling dermawan
dari seorang yang paling jahat
sampai seorang yang paling mulia
dimengerti oleh setiap orang
diinginkan oleh setiap orang
disadari oleh setiap orang
yang mengerti dan menginginkan
itulah cinta...
.....cinta.....
begitu adanya cinta
....
setitik air dari samudra cinta "Sang Pemilik Cinta"
saat menelusup ke hati seorang manusia
bagai airbah menyapu dan menenggelamkan
setetes yang mampu mengubah hidup
setetes embun dari surga
yang diturunkan ke bumi
diturunkan ke hati
mengisi rongga dada
....
cinta
.....
begitu adanya cinta.. cinta..
yang akan mampu merubah seorang penjahat menjadi ulama
dan juga mengubah seorang awam menjadi pujangga
seorang baik menjadi jahat
dan jahat menjadi baik
seorang pandai menjadi bodoh
dan seorang bodoh menjadi pandai
seorang menjadi seorang lain
....
cinta duhai cinta
....
begitu adanya cinta
hanya cinta yang tertuju kepada Sang Maha Pencinta
yang akan membawa kebahagiaan
yang terarah kepada Sang Maha Pengasih
yang membawa ketentraman
yang disebabkan Sang Maha Penyayang
yang membawa kedamaian
.....
cinta oh cinta
......
begitu adanya cinta
pagi ini, kusambut dengan cinta
kepada Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
_Copas catatan FB Ahmad Hudori_
Langganan:
Postingan (Atom)

