Uwais AlQarni: Terkenal Di Langit Tak Terkenal di Bumi
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! ”katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? ”Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.“Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.
sumber: almihrab.com
Rabu, 08 Februari 2012
Cinta ? Diamkanlah...
Cinta? Diamkanlah..
Jika dirimu jatuh cinta, maka diamkanlah. Ini kerana syaitan cuba menyelinap masuk untuk jadikannya cinta bernafsu. Jika dirinya, bukan untukmu, redhailah kerana Allah S.W.T pasti menyediakan seseorang yang lebih beriman untukmu.
DIAM ITU LEBIH BAIK.
Diamku, bukan kerana membenci kehadirannya tetapi ingin menjaga kesuciannya. Hanya Allah S.W.T yang Maha Mengetahui.
Kita diam bukan bermakna kita membenci sesuatu, tetapi mungkin kita ingin menjadikan ia lebih baik. Pernahkah kita terfikir, jika kita hanyut dalam cinta tanpa ikatan yang sah, ia bakal menjadi satu masalah untuk kita kerana kita sentiasa bergelumang dengan dosa.
Apakah yang akan berlaku pada rumahtangga kita? Anak-anak kita?
Adakah kalian masih ingat tentang kisah cinta antara Saidina Ali & Saiditina Fatimah Az-Zahra?
Kedua-dua mereka menyimpan perasaan antara satu sama lain, tetapi mereka lebih memilih untuk mendiamkan hal ini dari pengetahuan orang lain. Dengan izin Allah S.W.T, mereka berdua telah di satukan dengan ikatan yang sah.
"Dinikahi wanita itu kerana empat perkara; kerana hartanya, keturunannya, kecantikkannya dan agamanya. Maka pilihlah dalam hal keagamaannya. Nescaya beruntunglah kedua-dua tanganmu."(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
"Wahai kaum pemuda, siapa saja diantara kamu yang sudah sanggup untuk menikah, maka menikahlah, sesungguhnya menikah itu memelihara mata, dan memelihara kemaluan, maka bila diantara kamu belum sanggup untuk menikah, berpuasalah, karena sesungguhnya puasa tersebut sebagai penahannya."
Ramai yang berkata, jika kita diam, bagaimana si dia hendak tahu tentang perasaan kita?Ingat, setiap apa yang berlaku di dunia ini, semuanya telah di aturkan oleh Allah S.W.T. Jangan risau jika mereka tidak tahu tentang perasaan kalian, tetapi risaulah andai dirimu tidak berupaya untuk menepis dan mengawal perasaan tersebut terhadap seseorang yang tidak halal bagi dirimu.
Jika benar cinta itu kerana Allah S.W.T, maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah S.W.T kerana hakikatnya ia berhulu dari Allah S.W.T maka ia pun berhilir hanya kepada Allah S.W.T.
Tetapi, ingatlah..Cinta Allah, adalah cinta yang kekal abadi. Kejarlah cinta Allah S.W.T dahulu kerana kita pasti tidak akan kecewa andai kita berjaya mencintai Allah S.W.T dengan sepenuh hati. Bagaimana kita hendak mencintai seseorang andai kita tidak berusaha untuk kenal dan cintai Sang Penciptanya.
Banyak lagi tugas kita di dunia ini terhadap agama kita. Jangan disebabkan terlalu mengejar cinta manusia, tugas sebagai seorang pendakwah juga kita tidak peduli. Jangan terlalu asyik dengan kehidupan dunia kerana itu hanyalah sementara.
Utamakan akhirat, kerana ia akan kekal abadi. Jika betul-betul sudah bersedia maka kahwinlah.
Post ini adalah untuk peringatan bersama terutamanya untuk diri ini. Semoga kita semua sentiasa di lindungi oleh Allah S.W.T. Jangan pernah kecewa jika kita pernah putus cinta tetapi jadikan ia sebagai pengajaran dalam hidup kita. Berusahalah untuk menjadi hamba yang sempurna di pandangan Allah S.W.T bukan di pandangan manusia.
Untuk Hawa..
Apabila lelaki mengatakan dirimu seorang yang sombong, itu lebih baik kerana itu menandakan dirimu sukar untuk didekati dan kamu telah berusaha untuk menjaga dirimu dan dirinya juga.
Untuk Adam..
Mereka sombong kerana mereka ingin menjaga pergaulan mereka, dan mereka berusaha untuk menghindari dirinya serta dirimu bergelumang dengan dosa. Bersyukurlah kerana dia, anda terselamat dari melakukan dosa. Hormatilah keputusan mereka dan jagalah mereka mengikut peraturan yang telah di tetapkan di dalam Islam.
Bisik hatiku:
"Jika namamu yang ditulis di Luh Mahfuz untuk diriku, nescaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita. Tugas pertamaku bukan mencari dirimu tetapi mensolehahkan diriku."
"Sukar untuk mencari soleh dirimu andai solehahku tidak setanding dengan kesolehahanmu. Janji Allah pastiku pegang dalam misi mencari diri 'Lelaki yang baik untuk wanita yang baik."
Ya Allah...
Seandainya rindu ini suci maka kuatkanlah...
Seandainya ukhuwah ini kudus maka panjangkanlah...
Seandainya luka ini berhikmah maka biarlah...
Seandainya ingatan ini berfaedah maka teruskanlah...
-Artikel iluvislam.com
Sumber Grafik: Google Image
Biodata Penulis
Afifah Azlan Seorang pelajar, dan sangat berminat dalam bidang penulisan. Hasil penulisannya boleh dilayari di blog beliau http://cintakuhanyapadamu.blogspot.com/.Selasa, 07 Februari 2012
Rumah, Madrasah Rohaniah
Selasa, 07 Pebruari 2012 11:49 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Toto Tasmara
Bukalah jendela hatimu, biarkan cahaya Ilahi menerpa seluruh sudut kehidupanmu. Engkau bersuka cita di bawah semburat cahaya mentari. Rumahmu, tempat engkau tinggal, bukanlah kuburan kelompok tertentu. Indah bangunannya, mahal harganya, luas tempatnya, tetapi hanya sekadar membungkus seonggok daging dan tulang, baunya busuk, keabadiannya sirna, peti yang kukuh semakin rapuh, dan kemudian berdebu, lalu tubuhmu sirna.
Rumahmu yang sebenarnya bukanlah wujud keindahan yang hanya bisa dipandang dengan mata telanjang. Rumahmu adalah jiwamu yang wibawanya kau pantulkan dari cara memandang dengan mata hatimu yang memancarkan rasa iba kepada saudara-saudaramu.
Sukma tak akan pernah sirna, tetapi menjulang ke langit, karena di sanalah ia berawal. Sedangkan raga yang kosong dari cinta dan diliputi keserakahan akan tenggelam memasuki tanah-tanah busuk yang hitam berlumpur, bergabung dengan rayap yang bersembunyi dalam kegelapan.
Sebab itu, hiasilah rumahmu dengan roh yang memancarkan kemuliaan akhlak. Poleskan cahaya persaudaraan penuh cinta. Karena kelak, para penduduk di rumahmu akan bergabung di surga Aden. Mereka saling bertegur sapa dalam damai. Duduk bertelekan bangku-bangku panjang, dibalur wewangian bunga-bunga teratai yang tak pernah layu, wanginya membuat seluruh anggota keluargamu terbang menari dengan sayap-sayap para malaikat. Zikir dan rintihan harapan yang kau gemakan selama hidupmu akan berubah menjadi musik surgawi yang memeluk kemesraan. Itulah hari yang dijanjikan, suatu perhelatan reuni abadi yang diperuntukkan bagi mereka yang hatinya dipenuhi tamu-tamu cinta. (QS [13]: 23).
Akhlak para penghuni rumah yang senantiasa membuka mata hati melebarkan jiwa kedermawanan, akan menjadi gelas-gelas berisi penuh air mahabbah (cinta). Rumahmu adalah miniatur dari rumah keabadian. Rumah yang para penghuninya merasa damai sejahtera berlimpah cinta, itulah surga. Baiti jannati-(rumahku surgaku).
Rumah bukan hanya sekadar berteduh. Ia adalah pelabuhan hati, di mana para pengembara akan berangkat dan berlabuh melepas desah lelah perantauannya. Ia adalah saksi bisu yang merekam keluh kesah para penghuninya. Jadikanlah shalat adalah tiangnya, zikir sebagai fondasinya, dan bacaan Alquran adalah cahaya yang akan menerangi setiap pori-pori para penghuninya.
Inilah cara dan ciri orang-orang mukmin menjawab seruan Ilahi. "Quu anfusakum wa ahlikum naran.” Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS at-Tahrim [66]: 6).
Dalam badai kehidupan yang bertuhankan materi, masyarakat dajjalis yang kehilangan hidayah Ilahi. Masyarakat yang dilanda oleh defisit kejujuran dan inflasi kebohongan. Benteng terakhir yang tidak boleh runtuh adalah rumah.
Maka, jadikanlah rumahmu sebagai madrasah rohaniah yang akan melahirkan generasi baru pewaris cita-cita risalah. Generasi Rabbaniyah, generasi yang menjunjung akhlakul karimah. Bertindak cerdas penuh integritas dan tangkas menundukkan dunianya. Generasi yang mampu menancapkan panji-panji keteladanan. Menyuntikkan serum kejujuran dan menggapai bintang-bintang prestasi. Ini semua diawali dari rumah. Wallahu a’lam
Bukalah jendela hatimu, biarkan cahaya Ilahi menerpa seluruh sudut kehidupanmu. Engkau bersuka cita di bawah semburat cahaya mentari. Rumahmu, tempat engkau tinggal, bukanlah kuburan kelompok tertentu. Indah bangunannya, mahal harganya, luas tempatnya, tetapi hanya sekadar membungkus seonggok daging dan tulang, baunya busuk, keabadiannya sirna, peti yang kukuh semakin rapuh, dan kemudian berdebu, lalu tubuhmu sirna.
Rumahmu yang sebenarnya bukanlah wujud keindahan yang hanya bisa dipandang dengan mata telanjang. Rumahmu adalah jiwamu yang wibawanya kau pantulkan dari cara memandang dengan mata hatimu yang memancarkan rasa iba kepada saudara-saudaramu.
Sukma tak akan pernah sirna, tetapi menjulang ke langit, karena di sanalah ia berawal. Sedangkan raga yang kosong dari cinta dan diliputi keserakahan akan tenggelam memasuki tanah-tanah busuk yang hitam berlumpur, bergabung dengan rayap yang bersembunyi dalam kegelapan.
Sebab itu, hiasilah rumahmu dengan roh yang memancarkan kemuliaan akhlak. Poleskan cahaya persaudaraan penuh cinta. Karena kelak, para penduduk di rumahmu akan bergabung di surga Aden. Mereka saling bertegur sapa dalam damai. Duduk bertelekan bangku-bangku panjang, dibalur wewangian bunga-bunga teratai yang tak pernah layu, wanginya membuat seluruh anggota keluargamu terbang menari dengan sayap-sayap para malaikat. Zikir dan rintihan harapan yang kau gemakan selama hidupmu akan berubah menjadi musik surgawi yang memeluk kemesraan. Itulah hari yang dijanjikan, suatu perhelatan reuni abadi yang diperuntukkan bagi mereka yang hatinya dipenuhi tamu-tamu cinta. (QS [13]: 23).
Akhlak para penghuni rumah yang senantiasa membuka mata hati melebarkan jiwa kedermawanan, akan menjadi gelas-gelas berisi penuh air mahabbah (cinta). Rumahmu adalah miniatur dari rumah keabadian. Rumah yang para penghuninya merasa damai sejahtera berlimpah cinta, itulah surga. Baiti jannati-(rumahku surgaku).
Rumah bukan hanya sekadar berteduh. Ia adalah pelabuhan hati, di mana para pengembara akan berangkat dan berlabuh melepas desah lelah perantauannya. Ia adalah saksi bisu yang merekam keluh kesah para penghuninya. Jadikanlah shalat adalah tiangnya, zikir sebagai fondasinya, dan bacaan Alquran adalah cahaya yang akan menerangi setiap pori-pori para penghuninya.
Inilah cara dan ciri orang-orang mukmin menjawab seruan Ilahi. "Quu anfusakum wa ahlikum naran.” Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS at-Tahrim [66]: 6).
Dalam badai kehidupan yang bertuhankan materi, masyarakat dajjalis yang kehilangan hidayah Ilahi. Masyarakat yang dilanda oleh defisit kejujuran dan inflasi kebohongan. Benteng terakhir yang tidak boleh runtuh adalah rumah.
Maka, jadikanlah rumahmu sebagai madrasah rohaniah yang akan melahirkan generasi baru pewaris cita-cita risalah. Generasi Rabbaniyah, generasi yang menjunjung akhlakul karimah. Bertindak cerdas penuh integritas dan tangkas menundukkan dunianya. Generasi yang mampu menancapkan panji-panji keteladanan. Menyuntikkan serum kejujuran dan menggapai bintang-bintang prestasi. Ini semua diawali dari rumah. Wallahu a’lam
Rabu, 25 Januari 2012
Maafkan bila aku mengeluh
Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang remaja tampan dengan rambut sedikit ikal. Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan aku sangat ingin memiliki gairah hidup yang sama. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan. Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu. Namun ketika dia lewat .... ia tersenyum. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku.
Aku berhenti untuk membeli sedikit kue. Anak laki-laki penjualnya begitu mempesona. Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira. Seandainya aku terlambat sampai di kantor, tidaklah apa-apa. Ketika aku pergi, dia berkata, 'Terima kasih. Engkau sudah begitu baik.
Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Lihatlah, aku buta.' Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.
Lalu, sementara berjalan. Aku melihat seorang anak mirip bule dengan bola mata biru. Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain sepak bola. Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Aku berhenti sejenak, lalu berkata, 'Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak ?' Dia memandang ke depan tanpa bersuara, lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.
Dengan dua kaki untuk membawaku ke mana aku mau. Dengan dua mata untuk memandang mentari dan bukit-bukit. Dengan dua telinga untuk mendengar desir angin dan segala bunyi.
Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.
(Embun Taushiyah)
Selasa, 24 Januari 2012
25 januari 2012
Seret aku ke atas hamparan sajadah ini
Tenggelamkan aku dalam lautan tasbih tak bertepi
Adalah kerinduan akan-Mu
Tuntun aku telusuri baris-baris kalam-Mu..
Mencari makna di balik keindahan kata
Yaa Ghofur・Yaa Mujib・
Larut aku dalam munajat panjangku..
Pasrah dan berserah di tengah pengharapan akan terbalasnya rindu ini
Yaa Majid,Yaa Muhaimin.
Adakah rindu yang lebih indah
Selain kerinduan akan-Mu..
#IS
Do'a by Chairil Anwar
Tuhanku....
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu papas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk...
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling.
------------------------------ --
(Doa, by: Chairil Anwar)
Allah bersamamu..
Engkau diciptakan oleh Allah begitu indah.. Jika kehidupanmu ditakdirkan sekeras ini, dengan begitu banyak cobaan yg menghadang berarti Allah menginginkanmu agar menjadi pribadi yg lebih kuat,, lebih tegar tuk menghadapinya. Tetap semangat menjalani hidup. Engkau akan menjadi orang yang hebat..
Semangat saudaraku..!!!
Allah selalu bersamamu... ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)